"Langit Pagi di Mata Rayhan"
Setiap pagi, langit belum sepenuhnya terang saat Rayhan memutar kunci motor tuanya. Usianya baru 19, tapi langkahnya sudah sedewasa doa ibunya—yang setiap subuh terdengar lirih dari ruang tengah, membelah sunyi dengan harap: semoga anak-anaknya tetap kuat hari ini.
Rayhan bukan
hanya anak sulung. Ia adalah pengganti ayah, penjaga rumah, dan harapan yang
tak boleh tumbang. Sejak ayah mereka wafat lima tahun lalu karena kecelakaan
kerja, Rayhan berhenti sekolah. Bukan karena menyerah, tapi karena ia tahu:
adik-adiknya, Salma dan Rania, harus tetap bermimpi, dan ibunya tidak boleh
menangis dalam diam.
Di pasar subuh,
Rayhan menata dagangan sayur dari kebun pinjaman. Ia bukan pedagang besar, tapi
punya kejujuran yang mahal. Ia menolak uang lebih, ia bantu tetangga jinjing
belanja. "Rezeki itu soal keberkahan, bukan hanya jumlah," katanya,
sambil tersenyum pada nenek tua yang menawar tomat dengan receh pas-pasan.
Di saku bajunya,
selalu ada kertas kecil berisi tulisan tangan:
“Uang fotokopi Salma. Sandal baru Rania. Obat sendi untuk Ibu. Tabungan masa
depan.”
Itu bukan daftar belanja, tapi peta cita-citanya.
Rayhan tidak
pernah mengeluh. Peluhnya bukan beban, tapi bukti cinta. Ia tahu, bahagia itu
bukan soal punya segalanya, tapi soal tidak menyerah menjaga yang paling
berharga.
Sore harinya, ia
pulang dengan tangan penuh tahu-tempe dan sekeranjang tawa. Disambut peluk
hangat dan suara kecil Rania, “Mas Rayhan, kamu pahlawan kami, tahu nggak?”
Rayhan tertawa.
Ia bukan siapa-siapa. Tapi bagi ibu dan dua adiknya, ia adalah langit pagi—yang
selalu datang membawa harapan, meski dirinya sendiri belum sempat bermimpi.
Comments
Post a Comment