“Laptop dari Barang Rongsokan”

 Namaku Reza.

Aku tinggal di gang kecil, dekat pasar loak. Setiap pagi aku bantu ibu jualan lontong sayur, sore kadang bantu tetangga angkat-angkat barang bekas. Sekolah? Alhamdulillah masih bisa. SMK jurusan listrik.

Aku suka barang elektronik, walau nggak punya satupun barang elektronik bagus. Tapi aku suka lihat kabel-kabel, nyoba nyambungin, nebak mana yang masih hidup.
Hobi aneh, kata temanku. Tapi di kepala aku, selalu ada pertanyaan:
"Kalau aku bisa nyambungin kabel mati, bisa nggak aku sambung juga hidupku yang kayak putus nyambung begini?"

Suatu hari, aku nemu bangkai laptop di tumpukan besi tua dekat lapak rongsokan. Layarnya retak, engselnya copot, dan ada sarang semut di dalamnya. Tapi entah kenapa... aku bawa pulang juga.
Ibu cuma ngelus dada, “Itu rongsokan, Za...”

Aku tahu. Tapi aku lihat kemungkinan.
Satu per satu, aku kumpulin part dari komputer bekas, mainan rusak, keyboard dari warnet tutup. Aku rakit malam-malam, ditemani suara cicak dan kipas angin usang. Tanganku sering luka. Listrik kamar sempat mati total. Tapi aku terusin.

Aku nggak tahu apa yang bikin aku percaya bisa.
Mungkin karena hidup nggak ngasih banyak. Jadi kalau ada satu peluang kecil—sekecil tombol power—aku genggam erat.

Malam itu, waktu akhirnya lampu kecil di laptop itu nyala… aku nggak langsung senang. Aku diam. Lama. Baru kemudian senyum.
Aku elus laptop itu pelan. “Kita sama ya… dikira rusak, padahal masih bisa nyala.”

Laptop itu akhirnya jadi teman belajarku. Aku pakai buat desain, bikin logo, belajar dari tutorial gratisan. Lambat. Tapi bisa. Dari satu desain, aku dapet orderan. Lima puluh ribu pertama. Lalu seratus. Lalu cukup buat bantu beli beras dan bayar obat bapak.

Orang lain lihat laptopku dan bilang, “Kok masih dipakai? Layarnya rusak.”
Tapi buatku, dia bukan cuma alat. Dia simbol. Bukti. Kalau dari hidup yang tampak rusak pun… masih bisa lahir sesuatu yang berarti.

Karena mungkin… yang kita butuhkan bukan barang baru, tapi cara baru melihat hidup.

 

Comments

Popular posts from this blog

Kang Ojek dan Sepatu Jebol: Misi Menolong Si Tukang Jalan Kaki

Dari Parkir ke Kode

Dari Jalanan Menjadi Destinasi: Mendirikan Bisnis Perjalanan Wisata Kota Berbasis Masyarakat