Dari Parkir ke Kode
Namanya Raka. Usianya baru 22, tapi hidup sudah menempanya seperti besi panas. Setiap malam, ia berdiri di bawah lampu redup parkiran minimarket. Peluit di tangan, rompi kusam, dan termos kopi yang selalu setengah penuh.
“Parkir, Mas!”
“Terima kasih, Bu!”
Setiap senyuman dibayar recehan, tapi dia tak pernah mengeluh. Di balik raut
wajah tenangnya, Raka menyimpan sesuatu yang besar: mimpi menjadi programmer.
Siangnya, bukan waktu tidur untuk Raka. Ia duduk di pojok warung kopi, membuka laptop butut pinjaman dari teman, sambil membuka video tutorial gratis dan membaca buku bekas pemrograman yang ia beli dari loakan. Tak ada dosen. Tak ada kampus. Hanya semangat dan kuota dari paket harian.
Setiap error di layar bukan akhir baginya, tapi pelajaran. Ia belajar Python dari awal, mencoba proyek-proyek kecil. Kadang gagal. Kadang frustrasi. Tapi setiap malam ia kembali lagi ke kodenya—seperti magnet yang tak pernah putus daya tariknya.
Sampai suatu hari, ia memberanikan
diri melamar pekerjaan freelance. Bukan satu atau dua kali ditolak. Dua puluh
tiga kali. Tapi pada yang ke-24, sebuah startup dari luar negeri membalas
dengan tiga kata:
"Let’s try first."
Itu cukup. Satu kesempatan kecil, untuk orang yang sudah terbiasa bertarung tanpa pelindung. Ia kerjakan proyek itu diam-diam, di sela waktu jaga. Terkadang sambil menatap CCTV dan layar kode sekaligus. Hasilnya? Klien puas. Dibayar 200 dolar.
Malam itu, ia tidak hanya membeli makan untuk keluarganya. Ia beli kuota 30 hari, sepasang headphone, dan duduk di tempat parkir dengan hati penuh syukur. Untuk pertama kalinya, dunia luar membayar hasil kerja pikirannya—bukan hanya jasanya memarkirkan motor.
Dari sana, pintu-pintu lain terbuka. Klien kedua, ketiga, bahkan mentor dari India yang ingin membimbingnya. Kini, Raka tak lagi jaga parkir. Ia kerja jarak jauh dari kontrakan mungilnya. Tapi dia masih sering berdiri di depan minimarket itu—bukan untuk bekerja, tapi untuk mengenang dari mana ia datang.
Raka tahu: bukan latar belakang yang menentukan masa depan, tapi keberanian untuk mencoba—meski dunia berkata "tidak", berkali-kali.
Comments
Post a Comment