“Satu Kamar Tiga Impian”

 Kami tinggal di satu kamar sempit.

Tiga bersaudara, satu kasur lipat, satu lampu gantung yang kedip-kedip kalau hujan deras datang.
Temboknya lembap, tapi kepala kami selalu hangat oleh mimpi.

Aku, Raka, dan Fian.
Aku yang paling tua, anak kelas 12 SMK. Raka kelas 9, dan Fian masih SD.
Setiap malam sebelum tidur, kami selalu tanya ke diri sendiri:
"Hari ini, sudah seberapa dekat kita dengan mimpi?"

Fian paling cerewet. “Aku mau jadi YouTuber! Biar bisa bantu Ibu, biar viral, biar bisa beli rumah!”
Raka lebih kalem, “Aku mau jadi chef, Ka. Yang masaknya bukan buat orang kaya, tapi buat orang-orang kayak kita.”
Aku? Diam. Tapi dalam hati aku janji: "Gue yang bakal dorong kalian sampai mimpi itu kejadian."

Kami tahu dunia nggak ramah.
Kami udah sering diledek karena baju bolong, karena nggak punya HP bagus, karena nggak pernah jajan di kantin.
Tapi kami juga tahu, yang bikin orang bisa berdiri tinggi, bukan dari sepatu mahal… tapi dari tekad yang nggak bisa diinjak.

Fian terus bikin konten pakai HP retak yang kupinjamkan. Dia edit sendiri, cari sinyal di ujung gang, upload diam-diam tengah malam. Sampai suatu hari, videonya dilihat ratusan ribu orang. Ada yang kirim ringlight dan alat bantu rekaman.
Dia nangis. Tapi bukan karena hadiah. Tapi karena usahanya nggak sia-sia.

Raka bantu ibu tiap pagi. Dia belajar masak sambil bantu bungkus nasi uduk. Dia ikut lomba masak se-kecamatan—dan menang. Dapat beasiswa masuk sekolah kuliner. Wajahnya masuk koran lokal. Kami semua peluk dia malam itu.

Aku? Aku kerja part-time sore sampai malam, sambil belajar untuk ujian masuk politeknik. Kadang ngojek, kadang bantu servis HP.
Satu malam, aku lihat dua adikku tertidur sambil memeluk mimpi mereka…
Dan aku tahu: kami mungkin miskin uang, tapi kami kaya keyakinan.

Tiga anak, satu kamar. Tapi impian kami cukup besar untuk menembus tembok rumah yang reyot.
Kami tidak menunggu dunia menjadi baik.
Kami belajar, bekerja, bertahan…
Karena kami ingin buktikan, bahwa dari kamar sempit pun, masa depan bisa dibangun.

 

Comments

Popular posts from this blog

Dari Jalanan Menjadi Destinasi: Mendirikan Bisnis Perjalanan Wisata Kota Berbasis Masyarakat

Rezeki Tak Pernah Salah Alamat: Optimisme dalam Ikhtiar Islami

Kang Ojek dan Sepatu Jebol: Misi Menolong Si Tukang Jalan Kaki