Hijrah Hati, Hijrah Hidup
Jam sudah menunjukkan pukul 01.42 dini hari. Langit Jakarta masih gelap, hanya sesekali terdengar suara kendaraan melintas. Fira duduk sendirian di ruang tamu kecilnya. Laptop kantor menyala, tetapi matanya kosong. Pikirannya jauh.
Sore tadi ia baru saja dimarahi klien. Bosnya pun menegur di depan semua rekan kerja. Katanya, “Kamu tuh pintar, tapi gak punya arah.” Kalimat itu menancap dalam. Sejak kapan hidupnya begini berantakan?
Di antara keheningan, matanya terarah ke rak buku. Sebuah mushaf Al-Qur’an yang dulu hadiah dari ibunya saat lulus kuliah, berdebu di sudut.
Ia mendekat. Membuka halaman
sembarang. Matanya tertumbuk pada ayat:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka
mengubah apa yang ada pada diri mereka.”
Fira terdiam. Tangannya gemetar. Air matanya menetes tanpa aba-aba.
“Apa aku terlalu jauh dari-Mu, ya Allah?” bisiknya pelan.
Ia teringat masa kecil. Subuh-subuh diseret ibu ke masjid. Maghrib selalu diisi tadarus. Tapi kini, lima waktu pun sering bolong.
Bukan karena tak tahu, tapi karena terlalu banyak alasan. Terlalu sibuk. Terlalu capek. Terlalu… duniawi.
Malam itu, Fira tak banyak bicara. Ia hanya mengambil air wudhu. Kedinginan. Canggung. Tapi ada rasa yang sulit dijelaskan: damai.
Di atas sajadah tipis, ia sujud. Tak
tahu harus bilang apa selain,
"Ya Allah, aku ingin kembali. Meskipun pelan, izinkan aku memulai
lagi."
Sejak malam itu, tak ada yang tiba-tiba jadi sempurna. Fira masih belajar. Kadang Subuhnya kesiangan, kadang hatinya goyah. Tapi satu hal yang berubah: ia tak lagi sendiri.
Hijrah tak menjadikannya sempurna. Tapi menjadikannya lebih jujur dengan dirinya sendiri—dan lebih dekat dengan Tuhannya.
Karena ternyata, yang paling butuh
untuk pulang...
bukan tubuhnya. Tapi hatinya.
Comments
Post a Comment