Hijrah Hati, Hijrah Hidup
Perjuangan Menjadi Lebih Baik Setiap Hari — dengan Sentuhan yang Lebih Manusia wi
“Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.” — QS Ar-Ra’d : 11
1. Saat Hati “Mengetuk Pintu”
Pernahkah kamu tersentak saat sedang
menatap langit malam—atau bahkan di tengah kemacetan—dan tiba-tiba merasa, “Ada
sesuatu yang hilang…”?
Itulah bisikan lembut hijrah. Ia tak selalu datang lewat khutbah megah;
seringnya ia lahir dari momen sepi: wajah ibu yang lelah, tumpukan tagihan, doa
yang tertunda, atau hasil rapat yang mengecewakan. Hati, bak bayi yang
merengek, memanggil pulang.
2. Godaan & Suara Berisik di Sekitar
Begitu kau melangkah, hidup seolah mem-push-notification segala halang-rintang:
- Teman dekat: “Ah, palingan hijrah musiman.”
- Timeline: meme yang mengejek “sok alim”.
- Diri sendiri: ketakutan kehilangan zona nyaman.
Wajar bila kaki gemetar. Tapi ingat—kalau tidak ada badai, kita takkan tahu seberapa kuat dayung perahu kita.
3. Jalan Berkelok, Bukan Garis Lurus
Hijrah bukan sprint 100 meter; lebih mirip lari maraton yang rutenya penuh turunan, tanjakan, jalan berlumpur—dan kadang rest area ber-“es teh manis” yang menggoda. Ada hari kau shalat tahajud penuh haru; besoknya malah kesiangan Subuh. It happens.
Alih-alih tenggelam di rasa
bersalah, tarik napas panjang:
“Ya Rabb, aku jatuh—tapi aku mau bangun lagi.”
Allah menilai tekadmu, bukan perfect score-mu.
4. Buah Manis di Tengah Perjuangan
Apa hadiah terbesarnya? Damai—jenis damai yang tak bisa dibeli di checkout keranjang belanja:
- Dompet boleh belum tebal, tetapi rezeki terasa cukup.
- Jadwal tetap padat, tapi hati lebih ringan.
- Masalah masih ada, namun sekarang kamu punya “GPS” ilahi.
5. Tips Kecil, Langkah Nyata
|
Situasi |
Coba Lakukan Ini |
|
Overthinking |
Baca satu ayat Al-Qur’an, renungkan maknanya 3 menit saja. |
|
Kantor toksik |
Temui rekan se-visi, buat “tim cahaya” kecil yang saling mengingatkan |
|
Mau belanja |
Tahan 24 jam, tanya: “Pengganti di surga lebih baik, nggak?” |
|
Bosan ibadah |
Ganti suasana: masjid baru, lagu murattal favorit, atau kajian daring |
6. Penutup: Kamu Tidak Sendiri
Setiap orang punya “peta hijrah” berbeda—ada yang start di usia 40, ada yang masih remaja. Ada yang pelan-pelan, ada yang full throttle. Apa pun kecepatannya, kita semua barisan pejalan pulang.
Besok, kalau kamu kembali goyah, ingat kalimat sederhana:
“Lelah akan berlalu, pahala akan tinggal.”
Mari saling rangkul—karena hijrah bukan sekadar pakaianku, ceramahmu, atau konten viral; ia adalah perjalanan harian, work in progress seumur hidup. Dan selama hati tetap mengetuk pintu Allah, percayalah, pintu itu takkan pernah tertutup.
Selamat melangkah, pelan tapi pasti. 🌱
Comments
Post a Comment